Menulis untuk hari tua

Menulis untuk hari tua

Menulislah, kelak akan membantumu mengingat saat kau menua

Seketika aku teringat pendakian pertamaku ke salah satu gunung yang berada di Bogor – Jawa Barat. Aku mulai membuka file lama yang isinya foto-foto pendakian tepatnya satu tahun silam. Tidak banyak kisah yang aku ingat, karena yang tersisa hanya kenangan yang selalu membuatku rindu untuk mendaki, dan beberapa foto yang masih tersimpan di handphone dan laptop. 


Sekarang aku mulai menyesal, kenapa dulu tidak terpikir untuk menulisnya. Kelak ketika memoriku tidak mampu mengingatnya karena usia yang semakin menua, aku bisa membacanya lagi untuk sekedar berbagi cerita dengan sahabat, bahkan bercerita kepada anak cucu untuk memotivasi mereka. Sudahlah, penyesalan tidak akan mampu mengubah semuanya. Sekarang yang harus aku lakukan adalah mencoba mengingat dan menulisnya.

Cobalah Mendaki,
minimal sekali saja dalam hidupmu 

Berawal dari sebuah keinginan “walaupun hanya sekali seumur hidup, aku harus mencoba mendaki”, yang selalu terbayang dalam pikiranku. Aku ingin merasakan capeknya saat para pendaki berjuang sampai puncak. Aku ingin melihat langsung  matahari yang perlahan terbit dari timur dengan membawa kehangatan saat menyentuh kulitku yang masih terasa dingin karena udara di puncak gunung. Aku ingin melihat lautan awan yang menari-nari indah tepat didepan mataku, dan melihat awan dari ketinggian yang membuatku seolah-olah berada di negeri atas awan. Terakhir, aku ingin melihat betapa menajubkannya keindahan yang telah diciptakan Allah SWT, agar aku menjadi manusia yang selalu mengucap syukur.
Ceritaku menjadi pendaki pemula


Aku mulai mencari informasi di internet mengenai pendakian khususnya bagi pemula, termasuk perlengkapan apa saja yang wajib dibawa, serta kebutuhan logistiknya. Beberapa Akun Instagram yang berhubungan dengan pendakian mulai aku ikuti untuk mendapatkan informasi terbaru terkait gunung yang akan aku pilih.
Mencari teman yang hobby nya mendaki adalah cara terbaik bagi pendaki pemula untuk mendapatkan pengetahuan seputar pendakian. Kebetulan teman kantorku sudah berpengalaman mendaki ke beberapa gunung, jadi aku manfaatkan kesempatan ini dengan baik demi kelancaran misi pendakian pertamaku. Jika kamu tidak punya teman yang hobby nya mendaki, coba bergabung dengan komunitas khusus pendaki, backpacker, atau cara termudah adalah ikut saja open trip.


Aku mulai mendekati temanku untuk mengorek informasi sebanyak-banyaknya sebagai bahan referensi. Aku diberikan masukan yang  menambah wawasanku, termasuk apa yang harus dilakukan dan apa yang dilarang saat pendakian. Iseng-iseng aku ngajakin dia mendaki,  dia pun setuju untuk ikut, walaupun sempat terjadi diskusi yang alot karena alasan keuangan. Karena aku yang ingin mendaki, aku rela berkorban membayar biaya pendafarannya, tapi aku minta dikembalikan sih saat dia sudah gajian, “haha”.

Teman yang punya pengalaman mendaki sudah ada, selanjutnya aku harus mencari teman lain untuk mewujudkan keinginanku naik gunung. Aku mulai pilih-pilih teman yang fisiknya dibilang oke buat mendaki. Dalam pemikiranku saat itu, orang yang naik gunung itu harus badannya ideal, terlihat kuat, dan yang mempunyai fisik sempurna (lengkap).

Aku salah besar, justru banyak kok wanita yang senang mendaki, bahkan yang berparas cantik pun tertarik untuk naik gunung. Wanita-wanita ini bisa juga menjadikan motivasi tersendiri bagi para pria untuk terus melangkah, walaupun rasanya capek bukan maen. Gak lucu juga kan kalau para wanita jalannya lebih cepat, padahal sama-sama bawa carrier, “haha”.

Aku sempat melihat orang yang fisiknya tidak sempurna mendaki, kulihat tunanetra berjalan tersendat-sendat dengan bantuan seseorang sebagai penunjuk jalan. Jadi buat kamu yang belum pernah mendaki, terutama bagi kaum hawa jangan ragu dan takut ya untuk mendaki. InsyaAllah aman, terutama dengan persiapan yang matang dan mental yang tangguh. Selain mendapatkan teman baru, kalau beruntung kamu bisa menemukan jodohmu disana. Mungkin ini yang dinamakan, “Sambil menyelam minum air”.

Satu persatu teman sudah aku hubungi, Mulai dari yang berinisial A sampai dengan Z, tapi ada aja yang menolak karena tidak mendapatkan cuti, ada yang belum punya uang, dan ada juga yang beralasan karena fisiknya tidak memungkinkan untuk mendaki. Hari demi hari begitu cepat berlalu, dan aku belum mendapatkan anggota sesuai permintaan temanku yaitu disarankan minimal 6 orang.


Pendaftaran ke gunung yang akan aku daki menggunakan sistem online, dengan tujuan membatasi pengunjung yang masuk demi menjaga kelangsungan hidup habitat yang ada disana. Hampir setiap hari aku mengecek kuota pendaftaran di internet, sekedar memastikan kuotanya belum full. Saat itu sisa kuota tinggal 7 orang, sedangkan aku baru mendapatkan anggota 5 orang.

Aku mulai kebingungan, jika aku tidak daftar saat itu juga akan kehabisan kuota, tapi kalau mendaftar anggotanya kurang 1 orang. Sebagai orang yang masih awam, aku berpikir kalau pendakian dengan anggota yang jumlahnya ganjil akan diikuti makhluk halus selama perjalanan. Untungnya temenku yang sudah pengalaman memberikan pencerahan, tidak masalah melakukan pendakian 5 orang ataupun ganjil. Justru keuntungannya adalah jika kita ada pengambilan keputusan, hasilnya tidak seri.


Semua Fotocopy KTP anggota sudah ditangan, saatnya aku melakukan pendaftaran secara online. Balasan email sudah aku dapatkan, itu pertanda kalau pendaftaran sudah berhasil. Waktu sebelum pendakian berkisar antara 2 bulanan, jadi masih ada kesempatan menabung untuk membeli perlengkapan mendaki.

Setelah gajian, aku langsung menuju tempat yang khusus menjual perlengkapan mendaki. Awalnya sempat kaget karena harganya bisa dibilang fantastis, yang membuatku berpikir ulang untuk membeli semua perlengkapan saat itu. Aku Cuma bisa membeli sepatu, itupun sudah menguras kantong dalam-dalam. Sebagai pendaki pemula, sebaiknya kamu menabung jauh-jauh hari ya, kalau perlu setiap bulan membeli perlengkapannya secara bertahap, kecuali kamu dilahirkan sudah jadi anak orang kaya, “haha”.


Gajian berikutnya aku harus membeli semua perlengkapan, karena jadwal pedakian yang sudah mendekati hari H. Aku sudah membeli tas, tongkat, celana, baju, sleeping bag, dan head lamp. Untuk tenda, kompor, nesting, dan flysheet aku putuskan  menyewa untuk menghemat pengeluaran.

Saat membeli jaket Sempat terjadi adu mulut dengan temanku. Style menurutku no. satu, jadi aku memutuskan membeli jaket yang terlihat bagus walaupun bahannya tipis, sedangkan Fungsi itu menurutku no. 2. Jangan di tiru ya kelakuanku, karena keputusanku yang salah, aku merasakan kedinginan saat tiba di puncak dan itu membuatku tersiksa. Jadi kalau kamu beli barang itu sesuaikan dengan kebutuhan, bukan karena keinginananmu semata.

Waktu packing sudah tiba, dan kontrakanku menjadi tempat persiapan sebelum keberangkatan. Aku mulai memasukan satu-persatu barang ke dalam carrier, tapi ternyata masih banyak yang belum bisa aku masukan karena penuh. Temanku yang sudah pengalaman memberikan tips, pertama yang dimasukan adalah matrasnya dulu untuk membentuk carrier agar berdiri kokoh. Lapisi dengan kantong plastik buat jaga-jaga kalau sewaktu-waktu hujan. Kedua, letakkan Sleeping bag dibagian paling bawah, selanjutnya masukan perlengkapan yang hanya digunakan saat sampai ditujuan. Sedangkan dibagian paling atas masukan barang yang sewaktu-waktu dikeluarkan selama perjalanan, jadi kamu tidak kesulitan mengambilnya.

Usahakan salah satu anggota tidak perlu membawa carrier, cukup menggunakan daypack, kalau perlu tidak membawa apa-apa. Fungsinya adalah jika ada teman kita yang kecapekan atau mengalami cidera bisa bergantian membawanya. Pisahkan antara logistic, perlengkapan gunung, pakaian, dan P3K, agar lebih mudah mengambilnya jika diperlukan dalam keadaan darurat.

Sehari sebelum keberangkatan, teman-teman kantorku sudah heboh membuat tulisan, ada yang hanya bertuliskan “Anita, dalam salam dari gunung …… “. Adapula yang berisikan kalimat yang menunjukan mereka seolah-olah ikut mendaki. Tugasku hanyalah foto dengan tulisan itu dengan muka yang menghadap kebelakang. Nyesek rasanya, aku yang capek, kepanasan, kadang kehujanan demi sampai puncak untuk mengabadikannya melalui foto. Dan mereka cuma numpang exis doang agar dapat like dan komen di Instagram nya, “haha”.

Dulu tulisan masih menggunakan kertas, tapi sekarang zamannya sudah berubah, tulisan menggunakan kertas sudah mulai ditinggalakan para pendaki dan beralih menggunakan kata-kata di handphone. Belum kebayang, beberapa tahun kedepan apalagi yang digunakan para pendaki untuk menulis, kalau awan bisa dibikin tulisan seru juga kayaknya. Menurutku, sebuah tulisan yang kita foto dapat menjadi motivasi seseorang agar mengikuti jejak kita. Setelah digunakan, jangan lupa kertasnya dibawa dan dibuang di tempat yang telah disediakan.

Sampai disini dulu cerita mengenai pengalaman pertamaku mendaki, untuk cerita  selama perjalanan naik gunung nya bakal aku kupas di artikel yang berbeda. Aku akan tulis siapa saja yang menemaniku mendaki, bagaimana aku dapat karma karena ucapanku saat pndakian, terus kisah temenku yang sakit selama perjalanan, serta cerita temenku yang mengalami hal mistis.

Perlu dingat, jangan hanya berfoto saja saat melakukan sebuah perjalanan, ketika sampai rumah tulis kisahmu. Sekarang kamu masih muda, masih bisa mengingat semua kejadian dengan jelas, tapi kalau sudah tua nanti memorimu tidak mampu lagi untuk mengingatnya.
Sumber Foto: IG @harjuna_tbm
Yang penasaran dengan keseruan pemilihan duta backpaker jakarta bisa mampir dilink dibawah ini:


65 thoughts on “Menulis untuk hari tua

  1. "Jadi kalau kamu beli barang itu sesuaikan kebutuhan, bukan karena keinginananmu semata", Jleb sekali pas baca kalimat ini haha
    Ditunggu cerita selanjutnya, penasaran tentang karma dan cerita mistisnya.

  2. Ada foto cewek pendaki yang cantik-cantik, saya jadi salah fokus.

    Soal mitos kalau pendakian dengan anggota ganjil akan diikuti makhluk halus selama perjalanan, saya juga baru tau bbrp hari lalu waktu baca di FB.
    Pendakian aalkan peralatan dan logistik memadai serta juga baca do'a, insha Allah aman.

  3. Apa saja yang kita kerjakan sebenarnya bisa jadi bahan tulisan ya.
    Pengalaman pertama mendaki saya malah tidak punya peralatan apa apa, semuanya pinjam termasuk carrier. Waktu itu tidak terpikir kalau naik gunung ternyata mengasyikan juga. Tapi ternyata pengalaman pertama mendaki saya itu masih tetap jadi pengalaman pertama. Sampai sekarang belum mendaki lagi.

  4. Ini jleb banget haha, coba lah mendaki sekali saja seumur hidup. Hmm, jadi nambahin semangat nih. Udah banyak yang ajak tapi niat kok belum bulat ya, hehehe.. Ceritanya sangat menginspirasi Juna, terutama buat aku yang belum pernah mendaki sampai puncak gunung. Ke gunung camping sih beberapa kali, tapi ga di puncaknya.

  5. Aku tuh dari dulu pengen ngerasain naik gunung dan camping disana, tapi minder duluan mengingat badan keberatan. Tapi tulisan ini menambah tekad untuk paling tidak mencoba sekali saja

  6. Kak, saya terkesan pisan dengan Tema / Judul tulisan Kakak : Menuliskan, Kelak Akan Membantunya Mengingat Saat Kau Menua. Seperti mengingatkan saya yang selalu bilang ke client di sesi self healing untuk coba menulis apapun yang dirasakan saat itu. Dan suatu hari nanti, ketika kita baca ulang, setidaknya kita bersyukur telah melewati fase terberat dalam hidup…

  7. Kak, saya terkesan pisan dengan Tema / Judul tulisan Kakak : Menuliskan, Kelak Akan Membantunya Mengingat Saat Kau Menua. Seperti mengingatkan saya yang selalu bilang ke client di sesi self healing untuk coba menulis apapun yang dirasakan saat itu. Dan suatu hari nanti, ketika kita baca ulang, setidaknya kita bersyukur telah melewati fase terberat dalam hidup…

  8. Emng sih penyesalan selalu diakhir yaa klo didepan namany pendaftaran hah, sama aku juga sempet nyesel knpa aku mulai nulis ga dari dulu, dulu udh pernah nulis sih cuma males2an jadi ga guna juga waktu itu punya blog hhe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *