CERPEN berjudul Celengan

CERPEN berjudul Celengan

CELENGAN

            Menjadi tua itu pasti, ada yang di akhir hidupnya bahagia karena bergelimpahan harta, bahagia karena melihat anak-anaknya sukses, dan ada yang bahagia walaupun dengan kesederhanaan. Tapi, adapula yang masih berjuang menjalani hidup dengan serba kekurangan. Semua itu tergantung sekuat apa kita mampu berusaha dan berdoa. Karena pada akhirnya, kita sendirilah penentu sebuah tujuan hidup ini.
****************
Wajahnya layu memucat menahan sengatan terik sang Mentari. Langkah kecilnya kian melambat karena tenggok yang digedong terasa semakin berat. Sesekali dia beristirahat sekedar untuk meluruskan punggungnya dan membenahi tenggok agar tidak terlepas dari jarik yang mengikat tenggok dengan tubuhnya. Umur yang semakin tua membuat tenaganya mulai rapuh tidak seperti dulu lagi. Suaranya lirih terdengar saat menawarkan dagangan di sepanjang jalanan.
“Celengan, celengan”
Semangat seorang nenek tua untuk mencari nafkah masih membara. Demi memenuhi kebutuhan hidupnya sehari hari, dia harus berjualan di Taman Kota. Dia tidak membuat sendiri celengan itu, melainkan membeli dari pabriknya langsung agar mendapatkan harga termurah. Untungnya memang sedikit, tapi jika celengannya laku semua, cukup untuk membeli makan dalam satu hari.
            Sesampainya di Taman Kota, dia menata dagangannya di luar pintu masuk, dimana orang-orang silih berganti berdatangan untuk beristirahat atau berkumpul dengan komunitasnya. Dia gunakan jarik lurik untuk menutupi sebagian kepalanya agar tidak tersengat panasnya Mentari. Sandal jepit yang telah dia sambung dengan peniti, digunakan untuk alas duduknya. Orang-orang yang berjalan di depanya hanya merasa kasian tanpa berhenti untuk membeli dagangannya.
Satu jam berlalu, seorang pemuda mendekat dan mulai memilih celengan yang diinginkannya.
“Kalau celengan itu berapa nek harganya?” Pemuda itu menunjuk celengan ayam di sampingnya.
“Celengan yang ini tidak dijual nak, ini celengan punya nenek.”Dia mengambil celengan itu lalu diusap usap dengan tangannya.
“Untuk tabungan nenek ya?” Pemuda itu mulai penasaran.
“Tidak nak, ini untuk hadiah suami nenek.” Dia meletakkan kembali celengan itu di tempat semula.
“Suaminya mau ulang tahun ya nek?, Nenek romantis sekali, sudah tua tapi masih perhatian.” Dia hanya tersenyum tanpa menjawabnya. Setelah mendapatkan celengan yang diinginkannya, pemuda itu meninggalkannya.
Dia mempunyai satu orang anak laki-laki yang merantau ke luar Pulau. Setelah 2 tahun bekerja sebagai kuli bangunan, diapun menikah dengan dikarunia satu orang anak dan memutuskan untuk menetap di sana. Untuk  pulang sekedar mengunjungi sang nenek saja tidak punya biaya, apalagi membantu untuk mencukupi kehidupannya.
Satu bulan kemudian dia berhasil mengisi penuh celengan itu dengan menyisihkan sebagian penghasilannya setiap hari. Sore itu, dia berniat membeli hadiah setelah pulang dari berjualan. Di tengah perjalanan hampir saja tertabrak motor, dia terjatuh dan sisa celengannya yang belum laku terjual semua pecah. Karena kejadian sore itu, dia mengurungkan niatnya untuk membeli hadiah, karena uangnya akan digunakan untuk modal membeli dagangan celengan yang baru agar bisa berjualan di esuk hari.
******************
Kali ini nenek butuh waktu 2 bulan lagi untuk mengisi celengannya. Siang itu dia mulai memecahkan celengan dan menghitung total uangnya. Dia pergi ke toko untuk membeli hadiah, setelah mendapatkanya dia membawa hadiah itu kepada suaminya.
Sebuah Nisan terbuat dari kayu ukiran bertuliskan “Sumarno binti Kromo Rejo, Wafat 20 September 2015”. Itu adalah hadiah terindah kepada suaminya di hari ke 100 kepergiannya meninggalkan dunia ini.
Seseorang bisa saja mati, tapi cinta akan selamanya abadi…
Jangan Hanya belajar untuk mendapatkan sesuatu, tapi belajarlah untuk melepaskan, karena keduanya sama, “SULIT”…
TAMAT
 
Cerita ini hanyalah cerita Fiksi, Penulis menulis ini untuk mengingatkan kita semua bahwa hidup ini tidaklah mudah, ayo semangat mumpung masih muda untuk mengumpulkan tabungan di hari tua, agar nantinya kita tidak perlu lagi berjuang terlalu keras.
Terima kasih sudah membaca

28 thoughts on “CERPEN berjudul Celengan

  1. Alur ceritanya tidak bisa ditebak. Ceritanya meaningfull. Cinta sejati tidak putus karena kematian. Jika sudah ada tekad sesulit apapun pasti dilalui.

  2. Pingback: ANGGON WEDUS -

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *