Cerpen Berjudul Beringin Keramat

Cerpen Berjudul Beringin Keramat

Beringin Keramat
Tahun 1997
Orang-orang menyebutku Beringin, pohonku yang besar dan daunku yang rimbun membuat siapa saja yang berada di bawahku merasa teduh pada siang hari. Aku dikelilingi pagar kayu yang dicat warna coklat tua dengan olesan thinner yang membuatku terlihat semakin menarik perhatian orang-orang yang lewat di depanku. Di sekitarku tidak ada satupun rumput liar yang tumbuh karena mereka rajin mencabutnya dan sering membersihkan area di sekelilingku. Sepotong kain batik dilingkarkan dibatangku, karena mereka meyakini aku adalah pohon yang dikeramatkan.
Setiap hari jumat siang saat shalat jumat, ada saja orang yang membawa makanan menemuiku untuk tasyakuran. Orang jawa menyebutnya “nyadran”. Sebuah tradisi turun temurun dari para leluhur khususnya orang Jawa sebagai ungkapan rasa syukur karena keinginannya tercapai. Tukinem namanya, dia baru saja selesai memanen padi dengan hasil yang memuaskan. Siang itu dia mengajak tetangga terdekatnya untuk melaksanakan tradisi nyadran. Dia datang menemuiku membawa beraneka macam makanan olahannya sendiri.
Nasi putih berbentuk seperti gunung yang jumlahnya lebih dari 10 buah diletakkan dalam sebuah wadah, orang jawa menyebutnya “tampah”. Dalam tampah berikutnya terdapat pula nasi yang bentuknya sedikit berbeda. Perbedaanya terletak pada permukaannya yang dibuat datar, lalu diatasnya diberi lauk srundeng dengan tambahan sedikit tahu dan tempe kering. Disekiling nasi disediakan juga lauk pauk tambahan seperti urap, telur dan aneka sayuran. Ayam panggang utuh yang diletakkan dalam baskom tak lupa dihidangkan, ini adalah salah satu makanan yang paling ditunggu-tunggu para tetangga yang datang. Yang terakhir, gelas yang diisi air yang ditambahkan dengan taburan bunga didalammnya, kemudian diberi uang koin Rp. 500;. Ini merupakan  syarat wajib yang harus ada dalam tradisi ini. Setupuk daun jati sudah disiapkan pula untuk membungkus makanan bagi orang yang datang memenui undangan Tukinem.
 Salah satu dari mereka adalah seorang dukun atau sesepuh desa yang disewa Tukinem untuk memimpin acara. Sebongkah kemenyan yang dibakar diletakan pada sebuah papan dia bawa kehadapanku. Dia mulai mengeluarkan kata-kata yang aku sendiri tidak paham maksutnya karena dia terlalu cepat mengucapkannya. Dia begitu lancar mengeluarkan kata demi kata seakan dia telah melakukannya berulang kali. Mungkin saja dia ingin mencoba berkomunikasi denganku. Sang dukun berpikir akulah yang membuat warga menjadi makmur karena hasil panen yang melimpah ruah. Padahal aku sendiri tak pernah ikut campur dalam urusan mereka.
Selintas memang tidak ada yang salah tentang tradisi untuk membagi makanan kepada para tetangga, tapi cara mereka mengucap rasa syukur yang salah. Harusnya langsung bersyukur kepada Allah SWT, bukan datang menemuiku. Aku tidak tahu kenapa manusia memujaku, apa yang dia inginkan dariku. Aku saja sebagai tumbuhan setiap saat berzikir kepada Allah SWT atas semua keagunganNYA, kenapa manusia ini justru memujaku seakan-akan aku mempunyai segalanya.
Setelah melakukan ritual, dukun kembali bergabung dengan orang orang yang sudah berada didalam pagar. Dengan beralaskan tikar yang terbuat dari rotan, mereka berkumpul melingkari makanan yang sudah dibawa Tukinem. Dukun memberikan aba-aba untuk melakukan doa, Sang dukun menamainya “tadah amin”. Semua orang yang datang mengangkat kedua tangannya kemudian seketika suasana berubah menjadi hening.
Dukun melantunkan doa yang disetiap ujungnya dikeraskan dan diikuti  yang lainnya dengan mengucapkan amin. Seorang anak tidak mendengarkannya,  pandangannya hanya tertuju pada uang koin Rp. 500 yang terletak didalam gelas. Diakhir acara biasanya uang tersebut akan disiramkan ke akarku, dan menjadi rebutan anak-anak yang datang. Sedikit memang, tapi buat anak kecil uang tersebut bisa digunakan untuk uang jajan dalam sehari.
Setelah berdoa, Dukun mempersilakan orang-orang yang datang untuk mengambil makanan yang akan dibawa pulang ataupun dimakan ditempat. Salah satu dari mereka bertugas membagikan  makanan kemudian dibagi merata. Satu orang akan mendapatkan satu bungkus nasi dan lauknya yang dibungkus daun jati yang sudah disiapkan Tukinem. Ayam panggang yang telah disiapkan pun dibagi rata, tidak ada satu pun orang yang komplain sekalipun dapat potongannya berbeda-beda.
Kebanyakan dari mereka dalah anak kecil yang datang sekedar ingin mendapatkan makanan gratis. Setelah pulang dari sekolah mereka langsung kesini, bahkan ada yang masih mengenakan seragam sekolah. Tukinem merasa senang karena semua makananya habis dibawa orang pulang.
“Nem, balik sek yo, mugi kepareng panyuwune (Pulang dulu ya nem, semoga terkabul permintaannya).” Ini adalah kata kata yang sering diucapkan warga seusai acara nyadran.
“Iyo matursuwun, podo podo. Iya Terima kasih kembali.” Senyum kebahagian terpancar dari wajah Tukinem.
Pada malam hari, aku menjadi pohon yang angker dan ditakuti warga sekitar. Jalanan didepanku sangat gelap membuat suasana  menyeramkan. Anjing-anjing menggonggong saat melewatiku, dan membuat orang-orang merasa semakin ketakutan. Anjing-anjing itu melihat puluhan makhluk halus yang bersarang dibadanku. Makhluk halus ini tinggal disini karena ulah manusia sendiri, karena meminta pertolongan padaku. Dia ingin menyesatkan manusia dengan membantu mengabulkan keinginan orang yang datang menemuiku. Dia membuat seolah-olah akulah yang mengabulkan doa mereka, dengan begitu mereka akan datang terus menerus kepadaku. Dia ingin orang-orang menyekutukan Allah SWT, dan agar tersesat kelak di akhirat.
Hampir setiap orang yang lewat diganggu makhluk halus itu. Ada yang hanya sekedar memanggil nama, ada juga yang menangis, bahkan ada yang dilempari batu kecil. Tak jarang dari mereka juga menampakan wujudnya. Malam itu terlihat 2 orang laki-laki kakak beradik melewatiku.

“Jangan ganggu kami.” Kata seorang kakak yang memegangi tangan adiknya dan terus berjalan tanpa menolehku.
            “Kak, aku takut, liat kak daunnya bergerak sendiri.” Sudah jangan dilihat, ayo terus jalan.
            “Lari kak, ayo kita lari.” Mereka pun berlari ketakutan

            Kenapa mereka berlari, padahal daunku bergoyang karena hembusan angin. Semakin mereka merasa takut maka makhluk halus yang bersarang dibadanku akan semakin senang dan tidak berhenti mengganggu.
Tahun 2019
Tahun telah berubah, begitu juga dengan zaman, semakin lama sebuah peradaban, maka semakin modern pula kemajuan tekhnologi. Jalanan yang ada didepanku dulu sangat gelap, sekarang berubah menjadi terang benderang. Didekatku terdapat sebuah tower salah satu jaringan selular yang dapat digunakan manusia untuk tetap berhubungan dengan yang lainnya meski jaraknya jauh. Mereka sangat senang karena tower dibangun di Desanya.
Sekarang orang-orang tidak lagi memperdulikanku, aku dibiarkan hidup dengan rumput-rumput liar disekelilingku. Pagar yang dulu selalu diperbaiki dan dicat kini dibiarkan rapuh dimakan rayap. Mereka juga menebang sebagian batang dan daunku untuk makanan ternaknya, lalu memotong rantingku menjadi kayu bakar. Sekarang mereka tidak lagi memujaku, mereka sudah mulai percaya kepada Allah SWT. Aku merasa sangat senang akhirnya orang-orang itu sadar dan sudah menemukan jalan menuju kebahagiaan di akhirat kelak.
Dijaman modern seperti ini, jika aku bisa menghasilkan jaringan seluler mungkin setiap orang akan menanam pohon sepertiku, sayangnya aku hanya menghasilkan oksigen untuk mereka hirup setiap hari, aku hanya menyimpan cadangan air yang mereka gunakan untuk minum, dan aku hanya menahan tanah ini agar tidak longsor. 
TAMAT
  

28 thoughts on “Cerpen Berjudul Beringin Keramat

  1. Tahukah kau, wahai Beringin Keramat. BTS dan telepon genggam adalah Tuhan baru manusia. Bukan Allah SWT seperti yang lama kau inginkan.

    -Cerita Maria

  2. Sebagai orang yang agak males mikir…
    Suka lieur saat mereka berkali-kali kesebut,

    "mereka" nya itu… Apa? Manusia? Dedemit atau apa gitu..mungkin enak ga kbnyakan mereka, tp lngsung nyebut subjek/objeknya

    Penulisan di- untuk tempat dipisah
    Desa kalau tidak diikuti nama desanya, kecil aja "d" nya

    #komen doank ikut arisan kagak��

    Cara mendeskripsikan situasi lumayan ngebawa ke dalam setting cerita..

    Keep writing…

  3. Beringin oh beringin, seandainya bisa bicara pasti dirimu ingin menegur orang2 yg salah jalan dg menyembahmu, namun apa daya ya dalam hatimu hanya bisa berharap Tuhan yang memberi teguran pada manusia2 yg salah jalan itu.

  4. POV-nya keren banget! Ide ceritanya juga bagus, muatan lokal. Seneng bacanya. Di daerah Jawa memang masih kental sih ya adat dan tradisi kayak gini. Untungnya semakin modern, semakin banyak orang yang nyadar bahwa pohon ya sama sekali nggak boleh disembah.

  5. Membayangkan pohon beringin keramat, yang kesannya angker itu. Masukan dari aku tentang kata depan di-dan awalan di, kalau menunjukkan tempat di- harus tertulis terpisah, untuk kata kerja awalan di- melekat dengan kata dasar

  6. Sudut pandangnya keren euy.. dari pohon beringinnya. Hai beringin jangan sedih ya kalau kamu "hanya" bisa menghasilkan oksigen tapi nggak bisa menghasilkan sinyal.

  7. Jadi inget beringin kembar yang di alun-alun kidul Jogja, yang aku gagal melewatinya, hehe..itu just for fun sih. Keren ini ceritanya, Juna. Beringin Keramat yang akhirnya dilupakan tapi merubah stigma masyarakat jadi menghilangkan sisi mistisnya.

  8. Suka dengan ceritanya..
    Jadi inget beringin keramat yang ada di kampungku dulu. Sekarang malah sudah enggak ada, karena nyaris tumbang kena hujan besar..jadi sudah ditebang.
    Ditunggu cerita lainnya ya…suka gaya penulisannya

  9. Tulisannya bagus. Tak kuduga kau pandai sekali mendeskripsikan sesuatu Ferguso. Hahaha.

    Suka sama punchline cerita di akhir.

    Beringin memang diidentik dengan keramat, hal hal mistis, mitos dan baheula yaa.

  10. Cerita pohon beringin in bagus. Satu sisi hilangnya kebiasaan mengkramatkan beringin hilang dan manusia makin percaya Tuhan. Tapi, satu sisi kepedulian mereka pada sekitar juga berkurang.

  11. Aku jadi inget pernah diceritain sama simbah ku tentang nyadran ini, betul bgt sih sekarang sudah mulai ditinggalkan tapi masih ada juga beberapa orang yang masih percaya hal ini ada yang dijadikan sebagai tempat pesugihan juga kalo denger2 ceritanya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *