Cerpen Berjudul Jeritan Bunga Amaryllis

Cerpen Berjudul Jeritan Bunga Amaryllis

Jeritan Bunga Amaryllis

Aku adalah bunga Amaryllis, orang-orang sering memanggilku dengan sebutan bunga lily, november, bakung, dan ada juga yang menamaiku bunga bawang. Aku merupakan salah satu bunga yang hidup sepanjang tahun. Aku berbunga setahun sekali dalam kurun waktu 2 sampai 3 minggu lamanya. Aku mekar pada awal musim penghujan antara bulan oktober – november.

 Aku memiliki ciri-ciri daun yang tidak terlalu lebar tetapi panjangnya berkisar antara 30 cm hingga 100 cm. Warna Bungaku merah cerah yang bentuknya seperti terompet. Tangkaiku yang panjang membuat bungaku terlihat lebih tinggi dibandingan dengan daunku. Banyak orang yang menyukaiku saat aku berbunga karena keindahan bunga yang aku miliki.

Tukiman namanya, dia membeliku dari penjual tanaman bunga dipinggiran jalan. Dia menanamku disebuah pot berukuran sedang dan diletakkan di depan rumahnya. Dia sangat rajin memberi pupuk serta menyiramku setiap hari. Aku tumbuh subur karena sentuhan tangannya yang terampil. Rumput-Rumput liar yang hidup disekitarku dicabut agar aku tidak terganggu olehnya. Karena melihatku tumbuh dengan subur, akhirnya dia memutuskan untuk membeli bibit bunga sepertiku hingga ribuan jumlahnya. Dia menanam di halaman depan dan belakang rumahnya.

Dia merawat semua bunga seperti anak kandungnya sendiri. Pagi hari setelah melaksanakan sholat subuh, dia bersama istrinya mengambil air dan menyiram seluruh tanaman bunga. Pupuk dari hasil peternakan sapinya dia taburkan merata, tidak ketinggalan dia mencabut semua rumput liar yang tumbuh disekitar halaman. Dia tersenyum gembira melihat hasil tanamannya tumbuh dengan cepat dan lebat, kini hasil kerja kerasnya telah membuahkan hasil.

Musim penghujan sudah tiba, saatnya aku dan bunga lainnya akan mengeluarkan bunga berwarna merah merona yang akan menghipnotis siapapun yang melihat. Mereka akan terpesona dengan keindahanku dan aku akan membuat mereka mengucapkan Subhanallah, agar mereka semakin bersyukur atas semua ciptaan Allah SWT.
Sore itu terlihat dua remaja putri datang ke halaman depan rumah. Pertama dia hanya melihat-lihat, karena semakin penasaran dia mencoba untuk menyentuh dan mencium beberapa bunga yang sedang mekar.  Salah satu dari mereka mengeluarkan HP dan mulai mengambil foto dengan tongkat selfie miliknya. Melihat tingkah laku dua gadis tersebut, Tukiman keluar rumah lalu mengingatkan untuk berhati-hati agar tanaman tidak terinjak. Mereka berdua kemudian mengupload foto tersebut di akun sosial media miliknya dan menambahkan keterangan di foto dengan tulisan “ini ada di Indonesia lhooo”. Teman-teman yang melihat akun media sosialnya menjadi penasaran dan mulai menanyakan dan mencari lokasi keberadaanku.

Keesokan harinya tampak segerombolan anak muda terdiri dari 6 orang datang setelah melihat foto di facebook milik salah satu teman mereka. Tanpa meminta ijin Tukiman, mereka masuk ke halaman rumah dan melakukan foto bersama.

“Nadia hati-hati bunganya keinjak.” Teriak salah satu dari mereka.

“Biarian aja, bunganya kan ada banyak.” Sahut Nadia yang masih asyik berfoto yang bibirnya dibuat manyun dan ditempelkan pada salah satu bunga yang berada didepannya.

“Nanti kalau ketahuan yang punya kita dimarahin, sudah hentikan foto selfie nya.” Wanita itu mencoba menariknya dari kerumunan bunga.

“Kamu gak liat rumahnya kosong, itu berarti tidak ada orangnya, Aku mau upload foto di instagram, jadi hasilnya harus bagus, biar orang orang mengira kita ada di luar negeri.” Jawab gadis itu dengan nada sedikit menyombongkan diri.

“Kamu tuh ndeso, apa aja difoto, makan difoto, tidur difoto, nanti kalau kamu mau mati juga foto dulu?.”

“Huzzz jangan ngomong kayak gitu, sudah ayo pergi.” Sahut salah satu dari mereka setelah selesai berfoto.

“Harusnya kamu bangga ini ada di Indonesia, biar orang orang luar negeri itu yang datang nyamperin tempat ini.” imbuh teman yang berada disampingnya.

Kejadian hari ini tidak mengakibatkan kerusakan, hanya saja salah satu dari mereka memetik bunga di halaman untuk dibawanya pulang.

            Dihari berikutnya, jumlah orang yang datang semakin banyak hingga lebih dari 30 orang. Tukiman mengijinkan mereka masuk ke halaman, dan selalu mengingatkan untuk berhati hati jangan sampai menginjak tanaman. Mereka tidak diperbolehkan memetik bunga apalagi mencabutnya. Mereka semua datang hanya sekedar untuk berfoto dan menguploadnya dimedia sosial. Ada yang menambahkan keterangan difoto yang diuploadnya dengan tulisan “Bunga Amaryllis Indonesia tidak kalah dengan luar negeri”, tapi ada juga yang menuliskan  “Aku sedang berada ditaman bunga Amaryllis Belanda”.

Sebagian orang tetap bangga dengan negara Indonesia, tapi ada juga yang hanya sekedar pamer agar menarik perhatian orang. Melalui Jaringan media sosial, foto-foto dan tulisan tersebut sangat cepat sampai ketangan pembacanya, tidak dalam hitungan bulan, tidak pula minggu atau pun hari, melainkan dalam hitungan detik.

            Tepat satu minggu kami berbunga, halaman rumah depan dan belakang penuh dengan ratusan orang. Tukiman tidak bisa lagi mengontrol karena banyaknya orang yang datang untuk berfoto. Sebagian tanaman bunga mulai rusak karena terinjak. Tidak jarang dari mereka  berfoto dengan cara duduk diatas tanaman bahkan ada juga yang sampai tiduran diatasnya. Ada  yang berlarian dan melentangkan tangannya dengan menyentuh bunga bunga dikanan dan kirinya. Selain berfoto mereka juga membuat video dubsmash untuk diabadikan sebagai kenang kenangan.

Media televisi yang mengetahui hal tersebut mulai berdatangan untuk  meliput dan mulai mewancarai Tukiman tentang bagaimana dia pertama kali menanamku. Wawancara terjadi cukup singkat, beberapa pertanyaan mulai diajukan.

“Selamat siang  Pak Tukiman”. Reporter TV mulai mengajukan pertanyaan diteras depan rumah.

Selamat siang mbak”. Jawab Tukiman yang masih sedikit malu-malu saat wajahnya menatap kamera TV.

“Pak, bisa diceritakan bagaimana awal mulanya sehingga bapak bisa mempunyai kebun bunga Amaryllis sebanyak ini pak?.”

“Iya mbak, dulu saya pernah beli satu bunga di pinggiran jalan, itu mbak bunganya yang saya letakkan dipot depan rumah saya.” Dengan bangga dia menunjukku dengan telunjuk kanannya.

“Terus beberapa bulan kemudian saya membeli 1.500 bibit untuk saya tanam didepan dan belakang rumah saya ini, ya seperti ini hasilnya mbak.

“Apa bapak memungut biaya untuk orang yang melihat kesini pak?.”

“Tidak mbak, pokoknya asal tidak membuat rusak bunga saya, bapak ijinkan masuk.”

Hampir seluruh masyarakat Indonesia sekarang mengetahui tentang keberadaanku dari media televisi yang ikut berperan dalam menyebar luaskan informasi. Tidak hanya masyarakat yang lokasinya dekat dengan rumah Tukiman yang datang, melainkan mereka yang rumahnya dengan jarak tempuh kiloan meter rela mendatangiku untuk menyaksikan secara langsung .

 Hampir setiap hari aku didatangi ratusan orang yang silih berganti, bahkan dalam sehari mereka berjumlah ribuan. Mereka memiliki berbagai karakter yang berbeda-beda, ada yang menyukai dan mencintaiku seperti kekasihnya. Mereka sangat berhati hati ketika melewati tanaman bunga, jika ada bunga yang roboh akibat terinjak, mereka berusaha membuatnya berdiri seperti semula. Tapi, tidak sedikit pula yang acuh, mereka seenaknya sendiri berjalan dan menginjak injak. Kalau aku bisa bicara saat itu, aku ingin mengatakan  “jangan membuat kerusakan dibumi, sayangilah aku, aku juga ingin hidup diantara kalian”. Ingin rasanya menjerit, agar manusia tahu apa yang aku rasakan.

Dua minggu kemudian tanaman bunga dihalaman depan maupun belakang rumah hanya sebagian yang masih hidup, meraka kebanyakan mati terinjak-injak . Kesedihan mulai Nampak dari wajah Tukiman. Air matanya keluar dengan sendirinya melihat kejadian tersebut. Berbulan-bulan dia merawatnya dan rusak dalam hitungan hari. Dia tidak putus semangat, setelah orang orang itu pergi dia mencoba untuk membersihkan dan merawat kembali tanaman bunga yang telah rusak.

            Semakin hari orang yang datang kian berkurang, hanya terlihat sekelompok ibu ibu arisan datang menyempatkan diri.

            “Lihat Ibu-ibu, Bunganya sudah rusak semua, padahal aku kemarin liat fotonya di instagram bagus banget”. Ibu-ibu mulai memasuki halaman depan dengan menelan kekecewaan.

            “Iya, sayang sekali, anak anak muda jaman sekarang hobinya berfoto, tapi tidak memperhatiakan kalau tindakannya dapat berakibat fatal seperti ini.” Jawab salah satu dari mereka dengan menggelengkan kepala.

            “Iya sudah ibu ibu, lebih baik kita pulang saja, tidak ada yang bisa dilihat lagi.”

            “Gimana kalau kita foto dulu sebentar, jauh-jauh kita sampai sini”. Kata ibu ibu yang berumur paling muda yang sudah siap dengan kamera HPnya.

            “Boleh-boleh buat kenangan bu.” Jawab salah satu dari mereka.

            Sebagian orang masih ada yang peduli, suatu hari ada komunitas pecinta bunga datang untuk membantu Tukiman memperbaiki tanaman yang telah rusak. Pemerintah setempat juga membantu membiayai untuk pembelian bibit baru yang akan ditanam kembali. Mereka juga memasang pagar disekililing halaman rumah yang terbuat dari kayu. Jalanan setapak dibuat untuk mempermudah jika ada orang yang sekedar ingin melihat-lihat. Dibuatkan juga tempat khusus bagi orang  yang ingin berfoto. Tidak lupa tulisan “Jangan Injak kami,” dipasang disetiap sudut halaman dan didepan pintu masuk halaman.

Kini waktuku berbunga telah habis. Aku akan berbunga lagi setahun yang akan datang. Sekarang tidak ada lagi orang yang datang melihatku. Tanpa bungaku, aku tidak lagi memiliki keindahan yang dapat mereka gunakan sebagai objek foto. Tapi ingatlah akan satu hal, aku menghasilkan oksigen untuk mereka bernafas setiap hari.
TAMAT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *