ANGON WEDUS

ANGON WEDUS

Hidup di keluarga sederhana membuatku dituntut menjadi anak yang mandiri. Tidak seperti anak-anak lain, saat pulang sekolah mereka bermain dengan teman-teman sebayanya. Siang itu aku harus membawa kambing-kambing peliharaan keluargaku ke bukit belakang rumah untuk memakan rumput. Orang jawa menyebutnya “angon wedus”.

Agar  kambing-kambing tidak merasa kepanasan, aku membawanya ke sungai terlebih dahulu untuk dimandikan. Satu persatu kambing aku masukan ke dalam sungai. Tak lupa aku menaburi deterjen dibulunya dan menyikatnya agar terlihat putih kembali. Kambing milik keluargaku ini merupakan jenis kambing gibas. Warnanya putih, dengan bulu-bulunya sangat lebat.

Di tengah perjalanan  menuju bukit, aku bertemu dengan teman lain yang hendak mengembala ke tempat yang sama. Sampai di bukit, kambing-kambing sibuk mencari rumput sendiri. Aku berteduh di salah satu gubuk milik warga (gubuk adalah rumah panggung yang berukuran kecil, digunakan petani untuk berteduh sekaligus menjaga tanaman mereka dari monyet yang hendak mencuri tanaman singkong). Tak lupa aku membawa buku pelajaran untuk mengulas kembali apa yang aku pelajari di Sekolah.

“Bu, kulo nunut ngiyup ten gubuk nggeh” (Bu, saya ikut berteduh di gubuk ya)

“Iyo le, reneo, po wis madang kowe mau?” (Iya nak, sini, kamu tadi apa sudah makan?)

“Sampun wau enten griyo” (Sudah tadi di rumah)

“Mbokmu masak opo mau?” (Ibumu tadi masak apa?)

Oseng kates (Oseng papaya)

Obrolan kami berhenti, saat dua monyet mencoba mencuri singkong. Ibu itu berlarian mebawa batu dan melempar ke arah dua monyet itu. Lucunya, sebelum pergi monyet mengejek ibu tadi dengan buang air kecil di pohon singkong.

“Kethek edan, diuyak malah ngece, titonono nek rene meneh, tak balang ndasmu nganggo watu”. (Monyet gila, diusir malah mengejek, awas saja kalau ke sini lagi, tak lempar kepalamu pakai batu) katanya ketus sebelum kembali ke gubuk.

Waktu sudah sore, matahari pun tak lagi menyengat, itu saatnya aku dan  temanku pengembala kambing lainnya bermain.  Totalnya  6 orang termasuk aku akan bermain “bentikan”. Ya, namanya sedikit aneh, tapi permainan traditional ini sangat digemari dan terkenal di masa itu.

Ini cara mainnya, 6 orang dibagi menjadi dua kelompok dengan total yang sama. Kemudian tanah dibuat berlubang dengan ukuran panjang 7 cm, lebar 5 cm, dan kedalamannya 10 cm (bentuknya seperti kuburan, tapi dibagian tepi dibuat merucut). Selanjutnya letakkan kayu dengan panjang 10 cm di atas lubang dan angkat dengan kayu berukuran 1 meter. Satu kelompok bermain dan satu kelompok lagi bertugas menangkap kayu tersebut. Penilaianya berdasarkan total nilai tertinggi yang didapat. Bingung deh jelasinnya dengan kata-kata. hehe

Tak terasa waktu sangat cepat berlalu. Kumandang shalat magrib terdengar, itulah pertanda aku harus pulang rumah. Sampai di rumah ibukku sudah menyiapkan nasi tiwul yang dicampur dengan nasi putih dengan lauk grombyang (olahan tahu dan tempe dengan santan, ditambahkan cabe yang pedas).

Bagi  keluargaku, menu itu sudah lebih dari cukup. Memang rasanya tidak senikmat Pizza atau burger, tapi karena makan bersama dengan keluarga, apalagi yang membuat ibukku sendiri, rasa nikmat itu terasa hingga makanan terakhir yang ku telan.

Pagi harinya kambingku merasa kesakitan, hanya terbaring dan tidak bisa berdiri. Sesekali mengeluarkan cairan dari mulutnya. Bapakku salah memberi makan kambing dengan daun sepe pandemir (Singkong yang konon mematikan jika dikonsumsi manusia atau hewan). Dari 5 kambing milik keluargaku, kebetulan hanya kambing miliku sendiri yang terkena racun dari daun singkong itu.

Bapakku harus segera mengambil keputusan.

“Le, wedusmu tak belehe yo timbang mati, eman-eman engko ora enak dipangan”. (Nak, kambingmu tak sembelah ya, sayang nanti tidak enak dimakan)

Kambing yang aku beri nama Juliet itu adalah satu-satunya kambing yang aku punya. Aku beli Dari hasil menabung selama satu tahun, dengan menyisihkan uang jajanku setiap hari. Aku hanya bisa menangis tanpa berkata apapun, lalu pergi karena tidak tega melihatnya disembelih.

“Wis to rapopo, kapan-kapan tuku meneh”. (sudah, tidak apa-apa, kapan-kapan beli lagi) kata bapakku sambil menyembelih juliet.

Kesedihanku terobati setelah menyantap kelezatan daging kambing yang dibuat tongseng oleh ibukku. hehe

Baca juga:
http://harjunatbm.com/index.php/2018/11/27/cerpen-berjudul-celengan/

29 thoughts on “ANGON WEDUS

  1. Angon Wedus..

    Aku juga pernah dulu ikutan teman waktu di kampung ibuku. Seru seh kalo pas kambingnya kabur kita lagi asyik mainan sendiri hehehe..

    Oseng kates.. jadi pengen Jun.

    Cerpennya mengalir dengan indah, kisah nyata jadi nggak sulit membayangkan setiap adegan yang terjadi.

    Sak noh yo weduse mati.

    1. Aku nih penggemar daging. Tonseng sate kambing dll. Nggak masalah habis lihat disembelih berdarah-darah. Tep aja dimakan dg lahap

  2. kirain mau lanjutin artikel yg kemarin yg bromo itu..
    oo wedus itu kambing yaa.. makanya awan panas disebutnya wedus gembel karena bentuk awannya kayak bulu domba gitu yaa.

    Juliet berakhir “tragis” yaa hahaha

  3. Indah ya mas kenangan masa kecil di kampung apalagi sambil ngangon wedus bisa sambil berteduh dan mengerjakan tugas sekolah. Oh ya, menarik juga ya permainan Bentikan. Tadi saya beberapa kali mengulang baca di bagian tersebut sambil membayangkan gimana kira2 permainan tersebut ….

  4. Aman ya menaburkan detergen ke bulu-bulunya? seru banget bisa mandiin kambing, hal yang jarang bahkan gak pernah dilakukan di sini.
    Lauknya enak itu tahu tempe pakai santan, aku malah suka yang kaya gitu. Antara sedih & gimana gitu ya kambingnya disembelih buat makan 😀

  5. Wah baru tau kalau kambing itu bisa mandi. Setahu saya waktu dulu di kampung kambing itu takut air. Mungkin jenisnya berbeda ya?

    Ada lagi yg baru saya tau dari cerita ini kalau monyet suka singkong. Ini daunnya atau umbinya ya? Heheh
    Maaf jadi banyak pertanyaan.

    Tapi alur ceritanya ringan. Angon wedus, saya pernah juga ikutan teman teman dulu. Sambil nunggu layangan putus.

  6. olahan tahu dan tempe dengan santan, ditambahkan cabe yang pedas kalau di Kediri namanya oblok-oblok, Mas
    Ibuku sering bikin itu dulu. Malanan mevvah di jamannya..kecuali punya kambing yang bisa disembelih buat tongseng yaaa:D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *